Blog ini saya buat untuk referensi para survival.Hidup terus para survival Indonesia!!!
Sunday, November 7, 2010
CARA MEMBUAT DAN MENGGUNAKAN KOMPOR MEDAN
Kompor medan sering digunakan oleh para survival sebagai alat untuk memasak di alam bebas.Pada artikel ini akan saya jelaskan cara membuat dan menggunakan kompor medan.
Cara membuatnya:
Siapkan bahan-bahan untuk membuat kompornya :
-Kaleng kue bekas(sejenis kaleng wafer)
-Gungting untuk memotong seng
Cara membuatnya:
Buat penyangga wajan/panci dengan cara memotong pinggiran atas kaleng sejumlah empat penyangga
.
Setelah kompor jadi,siapkan bahan-bahan untuk memasak menggunakan kompor medan:
1.spirtus
2.korek(itu pasti)
3.lilin
4.kapur
Cara menggunakannya:
1.Masukkan lilin(iris-iris lilin agar lilin berfungsi secara sempurna,kapur yang juga dihaluskan,dan sedikit spirtus.
2Hhidupkan korek dan masukkan ke kompor,jika api kurang besar tambahkan spirtur sedikit demi sedikit.
3.Kompor pun sudah bisa untuk memasak.
Cara mematikannya:
Siram kompor dengan air(diusahakan pelan-pelan,agar spirtus tidak meletup-letup)
Inilah cara membuat dan menggunakan kompor medan,semoga bermanfaat,bagi para survival,Salam Survival!!!!!!
Monday, November 1, 2010
Detik news.com:Dua Ancaman Merapi: Erupsi dan Banjir Lahar
Jakarta - Bagaimana keadaan Merapi saat ini? Tidak ada yang bisa menjawabnya secara pasti. Termasuk ahli vulkanologi seperti Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Surono.
Namun Surono mengingatkan, ada dua hal yang mengancam warga sekitar Merapi saat ini. Dua ancaman itu adalah erupsi atau letusan dan banjir lahar.
"Kita tidak bisa memastikan kondisinya seperti apa, namun ada dua ancaman yang harus diwaspadai yaitu kemungkinan letusan dan banjir lahar," kata Surono usai mengikuti rapat kabinet di Kantor Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Senin (1/11/2010).
Surono mengatakan, erupsi Merapi yang tidak bisa diprediksi kapan akan terjadi sungguh berbahaya bagi manusia maupun hewan. Letusan akan menimbulkan awan panas yang bersuhu di atas 600 derajat Celcius.
Sementara itu banjir lahar juga mengancam karena saat ini adalah musim penghujan. "Musim hujan itu ada kebaikannya tapi ada juga keburukannya," kata Surono.
"Hujan itu bisa menyapu abu sehingga tidak mengganggu pernafasan dan kesehatan manusia tapi keburukannya, jika hujan sangat lebat, dapat menimbulkan banjir lahar yang mengancam masyarakat yang beraktivitas di sungai-sungai yang berhulu di Merapi. Itu dampak sekunder dari Merapi," kata Surono.
Surono mengatakan, selama berstatus awas, pihaknya akan terus memantau kondisi Merapi terkini kepada Pemda dan lembaga penanganan bencana. Semua hal akan dilaporkan selama 6 jam sekali.
"Agar dapat diketahui seluruh peristiwa di sana," kata Surono.Dua Ancaman Merapi: Erupsi dan Banjir Lahar
Anwar Khumaini - detikNews
Jakarta - Bagaimana keadaan Merapi saat ini? Tidak ada yang bisa menjawabnya secara pasti. Termasuk ahli vulkanologi seperti Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Surono.
Namun Surono mengingatkan, ada dua hal yang mengancam warga sekitar Merapi saat ini. Dua ancaman itu adalah erupsi atau letusan dan banjir lahar.
"Kita tidak bisa memastikan kondisinya seperti apa, namun ada dua ancaman yang harus diwaspadai yaitu kemungkinan letusan dan banjir lahar," kata Surono usai mengikuti rapat kabinet di Kantor Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Senin (1/11/2010).
Surono mengatakan, erupsi Merapi yang tidak bisa diprediksi kapan akan terjadi sungguh berbahaya bagi manusia maupun hewan. Letusan akan menimbulkan awan panas yang bersuhu di atas 600 derajat Celcius.
Sementara itu banjir lahar juga mengancam karena saat ini adalah musim penghujan. "Musim hujan itu ada kebaikannya tapi ada juga keburukannya," kata Surono.
"Hujan itu bisa menyapu abu sehingga tidak mengganggu pernafasan dan kesehatan manusia tapi keburukannya, jika hujan sangat lebat, dapat menimbulkan banjir lahar yang mengancam masyarakat yang beraktivitas di sungai-sungai yang berhulu di Merapi. Itu dampak sekunder dari Merapi," kata Surono.
Surono mengatakan, selama berstatus awas, pihaknya akan terus memantau kondisi Merapi terkini kepada Pemda dan lembaga penanganan bencana. Semua hal akan dilaporkan selama 6 jam sekali.
"Agar dapat diketahui seluruh peristiwa di sana," kata Surono.
Namun Surono mengingatkan, ada dua hal yang mengancam warga sekitar Merapi saat ini. Dua ancaman itu adalah erupsi atau letusan dan banjir lahar.
"Kita tidak bisa memastikan kondisinya seperti apa, namun ada dua ancaman yang harus diwaspadai yaitu kemungkinan letusan dan banjir lahar," kata Surono usai mengikuti rapat kabinet di Kantor Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Senin (1/11/2010).
Surono mengatakan, erupsi Merapi yang tidak bisa diprediksi kapan akan terjadi sungguh berbahaya bagi manusia maupun hewan. Letusan akan menimbulkan awan panas yang bersuhu di atas 600 derajat Celcius.
Sementara itu banjir lahar juga mengancam karena saat ini adalah musim penghujan. "Musim hujan itu ada kebaikannya tapi ada juga keburukannya," kata Surono.
"Hujan itu bisa menyapu abu sehingga tidak mengganggu pernafasan dan kesehatan manusia tapi keburukannya, jika hujan sangat lebat, dapat menimbulkan banjir lahar yang mengancam masyarakat yang beraktivitas di sungai-sungai yang berhulu di Merapi. Itu dampak sekunder dari Merapi," kata Surono.
Surono mengatakan, selama berstatus awas, pihaknya akan terus memantau kondisi Merapi terkini kepada Pemda dan lembaga penanganan bencana. Semua hal akan dilaporkan selama 6 jam sekali.
"Agar dapat diketahui seluruh peristiwa di sana," kata Surono.Dua Ancaman Merapi: Erupsi dan Banjir Lahar
Anwar Khumaini - detikNews
Jakarta - Bagaimana keadaan Merapi saat ini? Tidak ada yang bisa menjawabnya secara pasti. Termasuk ahli vulkanologi seperti Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Surono.
Namun Surono mengingatkan, ada dua hal yang mengancam warga sekitar Merapi saat ini. Dua ancaman itu adalah erupsi atau letusan dan banjir lahar.
"Kita tidak bisa memastikan kondisinya seperti apa, namun ada dua ancaman yang harus diwaspadai yaitu kemungkinan letusan dan banjir lahar," kata Surono usai mengikuti rapat kabinet di Kantor Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Senin (1/11/2010).
Surono mengatakan, erupsi Merapi yang tidak bisa diprediksi kapan akan terjadi sungguh berbahaya bagi manusia maupun hewan. Letusan akan menimbulkan awan panas yang bersuhu di atas 600 derajat Celcius.
Sementara itu banjir lahar juga mengancam karena saat ini adalah musim penghujan. "Musim hujan itu ada kebaikannya tapi ada juga keburukannya," kata Surono.
"Hujan itu bisa menyapu abu sehingga tidak mengganggu pernafasan dan kesehatan manusia tapi keburukannya, jika hujan sangat lebat, dapat menimbulkan banjir lahar yang mengancam masyarakat yang beraktivitas di sungai-sungai yang berhulu di Merapi. Itu dampak sekunder dari Merapi," kata Surono.
Surono mengatakan, selama berstatus awas, pihaknya akan terus memantau kondisi Merapi terkini kepada Pemda dan lembaga penanganan bencana. Semua hal akan dilaporkan selama 6 jam sekali.
"Agar dapat diketahui seluruh peristiwa di sana," kata Surono.
Sunday, October 31, 2010
merapi meletus lima kali
Gunung Merapi kemarin meletus lima kali. Ancaman awan panas atau yang biasa disebut wedus gembel pun kembali muncul sepanjang sore, kemarin (31/10). Sejak pukul 14.45 awan panas keluar dari puncak merapi menyebar ke berbagai arah seperti Boyolali, Klaten, dan Magelang.
Para pengungsi merapi yang berusia lanjut sedang dibantu mengenakan masker. Foto: Antara
Akibatnya di kawasan lereng Merapi kembali hujan debu dan pasir. Kondisi ini terus berlangsung hingga kemarin petang. Ratusan warga di Desa Sidorejo, Desa Balerante dan Desa Tegalmulyo yang siang kemarin pulang kembali dibuat panik.
Informasi yang berhasil dihimpun JPNN mayoritas warga saat wedus gembel keluar sedang mencari rumput di Ladang dan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM). Sudah menjadi kebiasaan bagi pengungsi jika siang hari kembali ke rumah untuk mencari makan ternak sapi dan kambing mereka.
Namun begitu melihat awan tebal keluar dari Puncak Merapi warga kemudian berteriak. Sehingga membuat warga di tiga desa tersebut langsung berlarian ke tempat yang lebih aman. Mereka tanpa dikomando langsung berkumpul di titk kumpul untuk menunggu dijemput tim evakuasi dari Satkorlak PB.
Warga bertambah panik, ketika mengetahui di wilayah mereka kemudian gelap karena terdapat hujan abu dan pasir. Selang beberapa menit kemudian truk membawa mereka ke Pos Pengungsian yang ada di Desa Dompol dan Desa Keputran.
Untuk mengantisipasi terjebaknya warga tim evakuasi kemudian menyisir jalan di tiga desa tersebut. Ternyata benar masih ada warga yang berlarian menuju ke bawah untuk menyelamatkan diri. Mereka kemudian diangkut ke truk yang sudah disediakan.
Kades Sidorejo, Kecamatan Kemalang Suroso mengatakan, beruntung saat wedus gembel melintas di sekitar desanya warga sudah terkumpul di lokasi aman. Mereka ada yang evakuasi mandiri atau menungngu armada dari Satkorlak PB.
”Jumlahnya ratusan mas yang dievakuasi. Karena saat itu warga banyak yang pulang dari Pos pengungsian untuk merumput. Beruntung tidak ada korban di desa kami. Karena warga memang sudah waspada sejak awal terhadap munculnya awan panas tersebut,” ujarnya.
Kepanikan warga juga terlihat di Desa Balerante, Daerah yang hanya berjarak sekitar 4 kilometer kemarin terlihat ratusan warga panik. Bahkan tim evakuasi harus menjemput paksa bagi warga yang masih nekat ingin bertahan di rumah masing-masing.
Kadus I Desa Balerante Zainu mengatakan, awan panas yang muncul sekitar pukul 14.55 kemarin mengarah ke Boyolali. Namun karena dari Desa Balerante awan panas sedikit terlihat maka warga pada berlarian ke lokasi aman. ”Kabut tebal memang menyelimuti Lereng Merapi sepanjang hari kemarin. Kondisi inilah yang membuat pantauan terhadap awan panas sulit untuk dilakukan. Sehingga warga harus ektra waspada untuk mengantisipasi larinya awan panas,” ungkapnya.
Dia menambahkan, volume wedus gembel yang keluar kemarin lebih banyak daripada sebelumnya. Durasi waktu juga lebih lama, karena berlangsung sekitar satu jam lebih.
Ratusan pengungsi yang kembali ke Pos Pengungsian tentu saja membuat suasana gempar. Tidak hanya itu, tenda dan ruang kelas yang siang hari kosong kembali dipenuhi ribuan orang yang ingin tidur di Pos Pengungsian tersebut.
Diare Menyerang
Setelah puluhan pengungsi terserang penyakit infeksi saluran pernapasan akit (ISP), kini giliran penyakit Diare yang mulai diderita pengungsi. Sejak dua hari terakhir jumlah pasien yang mengeluhkan sakit perut semakin banyak. Hal ini ditandai dengan permintaan obat sakit perut di Pos Kesahatan yang berpusat Puskesmas Kemalang.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Rony Roekmito mengatakan, jumlah pasien yang menderita berbagai jenis penyakit terus ditangani tim medis. Ada sekitar 9 orang yang harus menjalani rawat inap di Puskesmas dan Rumah Sakit Soeradji Tirtonegoro.
”Sebelumnya pasien yang rawat inap ada 13 orang, namun sebagian sudah pulang.Diare menjadi penyakit yang harus mulai diwaspadai oleh pengungsi. Karena saat ini sudah ada pasien yang mulai terserang penyakit ini. Memang yang menjalani rawat inap baru satu orang,” ujarnya.
Dia menjelaskan, namun yang meminta obat sakit perut ke posko kesehatan dalam sehari jumlahnya sudah belasan. Ini menandakan penyakit diare sudah mulai menyerang pengungsi yang bertahan di Posko Pengungsian.
”Memang tidak semua pengungsi yang menderita diare harus menjalani rawat inap. Mungkin sebagian hanya merasa sakit perut, sehingga hanya menjalani rawat jalan. Mereka hanya meminta kepada petugas medis obat,” ujarnya.
Rony menilai penyakit diare menyerang pengungsi karena dipengaruhi oleh pola makan yang tidak teratur. Dia memaklumi hal tersebut, karena selama berada di Pos Pengungsian ada ribuan warga yang harus dilayani oleh relawan dan petugas dari Satkorlak PB.
”Saya menyarankan pengungsi harus tetap menjaga pola makan. Tidak hanya itu pola hidup bersih dan sehat (PHBS) juga harus tetap dibiasakan. Terutama di tempat yang dijadikan untuk tidur dan makan. Karena diare tidak hanya dipengaruhi makanan yang dikonsumsi tapi kebiasaan menjaga kebersihan yang kurang,” ungkapnya.
Dia sudah koordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) agar selalu membersihkan sampah-sampah yang ada di Pos Pengungsian. Di setiap tenda da ruang kelas juga sudah disediakan tempat sampah, sehingga bungkus makanan yang digunakan pengungsi langsung dapat dimasukan ke tempat tersebut.
”Memang keliatannya sepele, namun dalam kondisi seperti ini kebiasaan kecil ini harus dilakukan. Apalagi saat ini di sekitar pos Pengungsian masih sering turun hujan. Sehingga akan rawan terserang berbagai penyakit. Tidak hanya diare, bisa saja demam berdarah dengue (DBD),” tambahnya.
Untuk mengantisipasi ancaman kesehatan tersebut, Dinkes menjamin stok obat masih aman untuk sebulan ke depan. Tenaga medis juga sudah disiapkan untuk merawat pasien yang setiap hari berjumlah puluhan di satu posko.
”Kami sudah menjadwal tenaga medis di 34 puskesmas untuk jaga secara bergiliran di Pos Pengungsian. Sehingga mereka tidak kelelahan dalam menangani pasien dari pengungsi yang memang cukup banyak. Koordinasi dengan rumah sakit juga telah dilakukan agar dikirim bantuan tenaga medis,” tambahnya.
Bandara Ditutup
Hujan debu vulkanik Merapi sempat mengguyur Bandara Internasional Adi Soemarmo Solo, kemarin sore (31/10). Kondisi itu memaksa otoritas bandara menutup penerbangan mulai pukul 18.00. Pada pukul 19.00, manajemen bandara menggelar evaluasi terkait hujan abu ini.
Lantaran sudah mereda, penerbangan bisa dibuka kembali pukul 19.00. “Penutupan hanya sejam saja. Karena hujan abu sudah mereda,” kata Bagian pelayanan bandara Rini Srihandayani ketika dihubungi JPNN, tadi malam.
Pembukaan penerbangan ini lantaran tidak terjadi dampak dari hujan abu secara signifikan. Pada penutupan sejam itu sempat menunda keberangkatan sejumlah jadwal penerbangan. Namun, setelah bisa dibuka, maskapai bisa menerbangkan kembali pesawat. “Mulai pukul tujuh malam sudah mulai terbang,” terang Rini.
Bandara Adi Soemarmo juga menjadi tempat pengalihan penerbangan jurusan Jakarta dan Denpasar ke Yogyakarta. Bagi penumpang warga Yogyakarta, terpaksa diangkut travel dari Solo ke Jogja. Travel ini sudah disediakan pihak maskapai.
Penutupan sementara tadi malam tidak berdampak pada jadwal pemberangkatan jamaah calon haji (CHJ) ke Tanah Suci. Sebab, kebetulan CHJ diterbangkan sebelum hujan abu turun. “Para CHJ terbang pukul 15.50. Sedangkan hujan abu turun sekitar pukul 17.30,” kata Humas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Solo Ahmad Su’aidi ketika dihubungi via ponsel tadi malam.
Tadi malam kebetulan tidak ada jadwal pemberangkatan haji. Sehingga hujan abu tidak berdampak langsung bagi CHJ. Sementara CHJ yang diberangkatkan kelompok terbang (kloter) 61 asal Cilacap. “Sesuai jadwal, pemberangkatan haji kembali dilaksanakan besok (hari ini, Red),” terang Su’aidi.
Sebelumnya, otoritas penerbangan di Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta, mengeluarkan notam (notice to air man) ke awak pesawat dan pilot. Notam dikeluarkan lantaran kondisi Gunung Merapi semakin membahayakan bagi penerbangan. Sebab, hingga kini Merapi terus meletus dan menyemburkan awan panas.
Dengan demikian, penerbangan dari berbagai kota yang menuju Yogyakarta sebagian dialihkan ke Bandara Internasional Adi Soemarmo, Solo. Pengalihan penerbangan itu dilakukan mulai kemarin (31/10).
“Memang benar ada pengalihan penerbangan yang menuju Yogyakarta ke Solo,” kata Duty Manager Bandara Internasional Adi Soemarmo, Solo, Edy Martono ketika dihubungi JPNN via ponsel kemarin. Notam tersebut belum dikeluarkan untuk penerbangan dari berbagai kota ke Solo. Begitu sebaliknya. Sebab, dampak debu vulkanis Merapi belum sampai di Solo. “Solo masih aman-aman saja,” jelasnya.
Pengalihan penerbangan itu mempertimbangkan keselamatan penumpang pesawat. Sejak beberapa hari terakhir ini, letusan Merapi mengarah ke selatan. Abu vulkanis sudah sampai di Kota Yogyakarta. “Hujan abu memang sudah sampai di Yogyakarta. Jadi, sangat membahayakan penerbangan,” terang Edy.
Batas penghentian pengalihan penerbangan tersebut belum ada. Sebab, sesuai dengan laporan dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, perkembangan Merapi masih terus terjadi. Jadi, itu dapat membahayakan arus lalu lintas udara.
Menurut Edy, setiap hari terdapat delapan penerbangan dari Jakarta ke Yogyakarta dan Denpasar ke Yogyakarta. Seluruh penerbangan tersebut dialihkan ke Solo. Informasi yang dia dapatkan dari otoritas Bandara Adi Sucipto menyebutkan, debu vulkanis masih melekat di landasan pesawat.
Dia menjelaskan, efek debu vulkanis sangat berbahaya bagi mesin pesawat. Seperti, yang terjadi pada penerbangan jamaah calon haji (JCH) beberapa hari lalu. Lantaran terjadi kerusakan mesin pesawat yang diduga akibat debu vulkanis, JCH terpaksa dialihkan ke pesawat lain.
Saat itu, pesawat diperiksa di Bandara Hang Nadim, Batam. Mesin pesawat tersebut rusak terkena debu vulkanik. Meski penerbangan itu dilakukan dari Solo, hingga kini belum dikeluarkan notam. “Belum ada notam. Sebab, secara umum penerbangan masih aman,” terangnya.
Lantaran baru sebagian penerbangan yang dialihkan, masih ada beberapa penerbangan yang tetap mendarat di Bandara Adi Sucipto. (oh/un/nan/jpnn)
Para pengungsi merapi yang berusia lanjut sedang dibantu mengenakan masker. Foto: Antara
Akibatnya di kawasan lereng Merapi kembali hujan debu dan pasir. Kondisi ini terus berlangsung hingga kemarin petang. Ratusan warga di Desa Sidorejo, Desa Balerante dan Desa Tegalmulyo yang siang kemarin pulang kembali dibuat panik.
Informasi yang berhasil dihimpun JPNN mayoritas warga saat wedus gembel keluar sedang mencari rumput di Ladang dan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM). Sudah menjadi kebiasaan bagi pengungsi jika siang hari kembali ke rumah untuk mencari makan ternak sapi dan kambing mereka.
Namun begitu melihat awan tebal keluar dari Puncak Merapi warga kemudian berteriak. Sehingga membuat warga di tiga desa tersebut langsung berlarian ke tempat yang lebih aman. Mereka tanpa dikomando langsung berkumpul di titk kumpul untuk menunggu dijemput tim evakuasi dari Satkorlak PB.
Warga bertambah panik, ketika mengetahui di wilayah mereka kemudian gelap karena terdapat hujan abu dan pasir. Selang beberapa menit kemudian truk membawa mereka ke Pos Pengungsian yang ada di Desa Dompol dan Desa Keputran.
Untuk mengantisipasi terjebaknya warga tim evakuasi kemudian menyisir jalan di tiga desa tersebut. Ternyata benar masih ada warga yang berlarian menuju ke bawah untuk menyelamatkan diri. Mereka kemudian diangkut ke truk yang sudah disediakan.
Kades Sidorejo, Kecamatan Kemalang Suroso mengatakan, beruntung saat wedus gembel melintas di sekitar desanya warga sudah terkumpul di lokasi aman. Mereka ada yang evakuasi mandiri atau menungngu armada dari Satkorlak PB.
”Jumlahnya ratusan mas yang dievakuasi. Karena saat itu warga banyak yang pulang dari Pos pengungsian untuk merumput. Beruntung tidak ada korban di desa kami. Karena warga memang sudah waspada sejak awal terhadap munculnya awan panas tersebut,” ujarnya.
Kepanikan warga juga terlihat di Desa Balerante, Daerah yang hanya berjarak sekitar 4 kilometer kemarin terlihat ratusan warga panik. Bahkan tim evakuasi harus menjemput paksa bagi warga yang masih nekat ingin bertahan di rumah masing-masing.
Kadus I Desa Balerante Zainu mengatakan, awan panas yang muncul sekitar pukul 14.55 kemarin mengarah ke Boyolali. Namun karena dari Desa Balerante awan panas sedikit terlihat maka warga pada berlarian ke lokasi aman. ”Kabut tebal memang menyelimuti Lereng Merapi sepanjang hari kemarin. Kondisi inilah yang membuat pantauan terhadap awan panas sulit untuk dilakukan. Sehingga warga harus ektra waspada untuk mengantisipasi larinya awan panas,” ungkapnya.
Dia menambahkan, volume wedus gembel yang keluar kemarin lebih banyak daripada sebelumnya. Durasi waktu juga lebih lama, karena berlangsung sekitar satu jam lebih.
Ratusan pengungsi yang kembali ke Pos Pengungsian tentu saja membuat suasana gempar. Tidak hanya itu, tenda dan ruang kelas yang siang hari kosong kembali dipenuhi ribuan orang yang ingin tidur di Pos Pengungsian tersebut.
Diare Menyerang
Setelah puluhan pengungsi terserang penyakit infeksi saluran pernapasan akit (ISP), kini giliran penyakit Diare yang mulai diderita pengungsi. Sejak dua hari terakhir jumlah pasien yang mengeluhkan sakit perut semakin banyak. Hal ini ditandai dengan permintaan obat sakit perut di Pos Kesahatan yang berpusat Puskesmas Kemalang.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Rony Roekmito mengatakan, jumlah pasien yang menderita berbagai jenis penyakit terus ditangani tim medis. Ada sekitar 9 orang yang harus menjalani rawat inap di Puskesmas dan Rumah Sakit Soeradji Tirtonegoro.
”Sebelumnya pasien yang rawat inap ada 13 orang, namun sebagian sudah pulang.Diare menjadi penyakit yang harus mulai diwaspadai oleh pengungsi. Karena saat ini sudah ada pasien yang mulai terserang penyakit ini. Memang yang menjalani rawat inap baru satu orang,” ujarnya.
Dia menjelaskan, namun yang meminta obat sakit perut ke posko kesehatan dalam sehari jumlahnya sudah belasan. Ini menandakan penyakit diare sudah mulai menyerang pengungsi yang bertahan di Posko Pengungsian.
”Memang tidak semua pengungsi yang menderita diare harus menjalani rawat inap. Mungkin sebagian hanya merasa sakit perut, sehingga hanya menjalani rawat jalan. Mereka hanya meminta kepada petugas medis obat,” ujarnya.
Rony menilai penyakit diare menyerang pengungsi karena dipengaruhi oleh pola makan yang tidak teratur. Dia memaklumi hal tersebut, karena selama berada di Pos Pengungsian ada ribuan warga yang harus dilayani oleh relawan dan petugas dari Satkorlak PB.
”Saya menyarankan pengungsi harus tetap menjaga pola makan. Tidak hanya itu pola hidup bersih dan sehat (PHBS) juga harus tetap dibiasakan. Terutama di tempat yang dijadikan untuk tidur dan makan. Karena diare tidak hanya dipengaruhi makanan yang dikonsumsi tapi kebiasaan menjaga kebersihan yang kurang,” ungkapnya.
Dia sudah koordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) agar selalu membersihkan sampah-sampah yang ada di Pos Pengungsian. Di setiap tenda da ruang kelas juga sudah disediakan tempat sampah, sehingga bungkus makanan yang digunakan pengungsi langsung dapat dimasukan ke tempat tersebut.
”Memang keliatannya sepele, namun dalam kondisi seperti ini kebiasaan kecil ini harus dilakukan. Apalagi saat ini di sekitar pos Pengungsian masih sering turun hujan. Sehingga akan rawan terserang berbagai penyakit. Tidak hanya diare, bisa saja demam berdarah dengue (DBD),” tambahnya.
Untuk mengantisipasi ancaman kesehatan tersebut, Dinkes menjamin stok obat masih aman untuk sebulan ke depan. Tenaga medis juga sudah disiapkan untuk merawat pasien yang setiap hari berjumlah puluhan di satu posko.
”Kami sudah menjadwal tenaga medis di 34 puskesmas untuk jaga secara bergiliran di Pos Pengungsian. Sehingga mereka tidak kelelahan dalam menangani pasien dari pengungsi yang memang cukup banyak. Koordinasi dengan rumah sakit juga telah dilakukan agar dikirim bantuan tenaga medis,” tambahnya.
Bandara Ditutup
Hujan debu vulkanik Merapi sempat mengguyur Bandara Internasional Adi Soemarmo Solo, kemarin sore (31/10). Kondisi itu memaksa otoritas bandara menutup penerbangan mulai pukul 18.00. Pada pukul 19.00, manajemen bandara menggelar evaluasi terkait hujan abu ini.
Lantaran sudah mereda, penerbangan bisa dibuka kembali pukul 19.00. “Penutupan hanya sejam saja. Karena hujan abu sudah mereda,” kata Bagian pelayanan bandara Rini Srihandayani ketika dihubungi JPNN, tadi malam.
Pembukaan penerbangan ini lantaran tidak terjadi dampak dari hujan abu secara signifikan. Pada penutupan sejam itu sempat menunda keberangkatan sejumlah jadwal penerbangan. Namun, setelah bisa dibuka, maskapai bisa menerbangkan kembali pesawat. “Mulai pukul tujuh malam sudah mulai terbang,” terang Rini.
Bandara Adi Soemarmo juga menjadi tempat pengalihan penerbangan jurusan Jakarta dan Denpasar ke Yogyakarta. Bagi penumpang warga Yogyakarta, terpaksa diangkut travel dari Solo ke Jogja. Travel ini sudah disediakan pihak maskapai.
Penutupan sementara tadi malam tidak berdampak pada jadwal pemberangkatan jamaah calon haji (CHJ) ke Tanah Suci. Sebab, kebetulan CHJ diterbangkan sebelum hujan abu turun. “Para CHJ terbang pukul 15.50. Sedangkan hujan abu turun sekitar pukul 17.30,” kata Humas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Solo Ahmad Su’aidi ketika dihubungi via ponsel tadi malam.
Tadi malam kebetulan tidak ada jadwal pemberangkatan haji. Sehingga hujan abu tidak berdampak langsung bagi CHJ. Sementara CHJ yang diberangkatkan kelompok terbang (kloter) 61 asal Cilacap. “Sesuai jadwal, pemberangkatan haji kembali dilaksanakan besok (hari ini, Red),” terang Su’aidi.
Sebelumnya, otoritas penerbangan di Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta, mengeluarkan notam (notice to air man) ke awak pesawat dan pilot. Notam dikeluarkan lantaran kondisi Gunung Merapi semakin membahayakan bagi penerbangan. Sebab, hingga kini Merapi terus meletus dan menyemburkan awan panas.
Dengan demikian, penerbangan dari berbagai kota yang menuju Yogyakarta sebagian dialihkan ke Bandara Internasional Adi Soemarmo, Solo. Pengalihan penerbangan itu dilakukan mulai kemarin (31/10).
“Memang benar ada pengalihan penerbangan yang menuju Yogyakarta ke Solo,” kata Duty Manager Bandara Internasional Adi Soemarmo, Solo, Edy Martono ketika dihubungi JPNN via ponsel kemarin. Notam tersebut belum dikeluarkan untuk penerbangan dari berbagai kota ke Solo. Begitu sebaliknya. Sebab, dampak debu vulkanis Merapi belum sampai di Solo. “Solo masih aman-aman saja,” jelasnya.
Pengalihan penerbangan itu mempertimbangkan keselamatan penumpang pesawat. Sejak beberapa hari terakhir ini, letusan Merapi mengarah ke selatan. Abu vulkanis sudah sampai di Kota Yogyakarta. “Hujan abu memang sudah sampai di Yogyakarta. Jadi, sangat membahayakan penerbangan,” terang Edy.
Batas penghentian pengalihan penerbangan tersebut belum ada. Sebab, sesuai dengan laporan dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, perkembangan Merapi masih terus terjadi. Jadi, itu dapat membahayakan arus lalu lintas udara.
Menurut Edy, setiap hari terdapat delapan penerbangan dari Jakarta ke Yogyakarta dan Denpasar ke Yogyakarta. Seluruh penerbangan tersebut dialihkan ke Solo. Informasi yang dia dapatkan dari otoritas Bandara Adi Sucipto menyebutkan, debu vulkanis masih melekat di landasan pesawat.
Dia menjelaskan, efek debu vulkanis sangat berbahaya bagi mesin pesawat. Seperti, yang terjadi pada penerbangan jamaah calon haji (JCH) beberapa hari lalu. Lantaran terjadi kerusakan mesin pesawat yang diduga akibat debu vulkanis, JCH terpaksa dialihkan ke pesawat lain.
Saat itu, pesawat diperiksa di Bandara Hang Nadim, Batam. Mesin pesawat tersebut rusak terkena debu vulkanik. Meski penerbangan itu dilakukan dari Solo, hingga kini belum dikeluarkan notam. “Belum ada notam. Sebab, secara umum penerbangan masih aman,” terangnya.
Lantaran baru sebagian penerbangan yang dialihkan, masih ada beberapa penerbangan yang tetap mendarat di Bandara Adi Sucipto. (oh/un/nan/jpnn)
Thursday, October 28, 2010
support for indonesia
Teman bantulah para korban bencana Merapi dan Mentawai walaupun hanya dengan support atau doa.
Sunday, October 24, 2010
PPATG JAWARA CLIMBATHON MERAPI 2010
10-10-2010,Pecinta Alam Tunas Gumiwang(PPATG)SMAN 1 Wonogiri meraih juara pertama dalam event Merapi Climbthon 2010.PPATG mengikutkan 5 tim.PPATG mendapatkan uang sejumlah 10 juta rupiah dari acara tersebut.
salam survive Indonesia!!!!!
Blog ini saya buat untuk menambah wawasan anda tentang cara hidup para survival.Nantinya akan saya buat juga artikel-artikel tentang komunitas-komunitas survival Indonesia.Update terus blog saya join juga facebook saya rivai agung padmowitono.Hidup survival Indonesia!!!
Subscribe to:
Posts (Atom)
.jpg)